KITA DAN KEMAJUAN ERA DIGITALISASI
Oleh: Septi Maulini, S.Pd.
Setiap detik waktu berputar, mengiringi perjuangan bangsa Indonesia
dalam melakukan perubahan. Setiap perubahan yang berkembang akan melahirkan
temuan baru yang mampu memberikan kemudahan. Perkembangan dan kemajuan
merupakan suatu keadaan yang tentunya diimpikan setiap bangsa, tanpa terkecuali
Indonesia. Bangsa Indonesia sendiri telah puas melewati pahit manisnya arus
globalisasi. Dunia pendidikan khususnya, telah menjadi salah satu perkakas yang
terdampak. Perubahan tersebut telah
mengubah cara pandang dan praktik pembelajaran terutama dalam dunia pendidikan.
Informasi mengenai ilmu pengetahuan juga dapat tersebar dengan cepat. Dengan
memanfaatkan perkembangan dan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi ini,
pendidikan dapat menjangkau ke seluruh lapisan masyarakat. Akibatnya, pada
dunia pendidikan saat ini dan masa yang akan datang ada beberapa kecenderungan
antara lain sistem pembelajaran yang semakin berkembang karena adanya kemudahan
untuk terselenggaranya proses pendidikan.
Berawal dari sebuah kalimat motivasi “Secanggih apapun teknologi tidak
akan pernah menggantikan peran guru, tetapi guru yang tidak mau belajar
teknologi akan mudah tergantikan”, maka hal ini bisa menjadi awal untuk
memulai. Guru dapat menuangkan ide kreatif untuk mengembangkan teknologi
digital yang diadaptasi untuk pembelajaran dan edukasi. Sekarang merupakan zaman milenial, dimana akses
informasi sudah dengan mudah untuk didapatkan. Hanya dengan sekali ‘klik’ apa
yang diinginkan, sudah terpampang jelas di layar gadget.
Pembelajaran harus mampu memiliki kompetensi yang berguna bagi masa depan.
Seiring berkembangnya teknologi dan juga infrastruktur penunjangnya, upaya
peningkatan kualitas pembelajaran dapat dilakukan melalui pemanfaatan teknologi
dalam suatu sistem yang dikenal dengan Pembelajaran Digital. Pembelajaran
digital merupakan suatu sistem yang dapat memfasilitasi pembelajar belajar
lebih luas, lebih banyak, dan bervariasi, sehingga pembelajar dapat belajar
kapan dan dimana saja tanpa terbatas oleh jarak ruang dan waktu, materi
pembelajaran juga lebih bervariasi, tidak hanya dalam bentuk verbal, melainkan
lebih bervariasi seperti teks, visual, audio, dan gerak (Munir, 2017).
Penggunaan teknologi
terbukti dapat meningkatkan minat belajar anak karena tampilan yang lebih
menarik sehingga akan terhindar dari rasa jenuh selama mengikuti pelajaran.
Adanya informasi yang digunakan untuk media pembelajaran dapat berdampak
positif bagi para siswa, yaitu mereka bisa lebih mudah dalam mencari informasi
yang diperlukan selama proses pembelajaran. Disamping itu juga bisa dilakukan
oleh siswa diharapkan mencari sendiri persoalan yang dihadapi untuk
menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru secara mandiri. Siswa bisa
menjadikan dirinya menjadi seorang yang mampu menyelesaikan permasalahannya
dengan memanfaatkan teknologi dan menjadikan teknologi sebagai kebutuhan dalam
hidupnya. Tidak dapat dipungkiri, kecanggihan teknologi saat ini, dapat
dimanfaatkan sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran.
Kondisi kelas yang saya ampu saat ini terkadang masih menerapkan
pembelajaran secara konvensional, terkadang klasikal, namun juga tetap
menerapkan kecanggihan digitalisasi. Jelas tampak perbedaan setiap pembelajaran
yang saya terapkan didalam kelas. Saat pembelajaran berbasis digital siswa
memang tampak antusias dan bersemangat untuk belajar dan mencari tahu. Siswa
lebih mandiri dan dapat menyelesaikan permasalahannya sendiri maupun bersama
anggota kelompoknya. Tak hanya itu, kenyataan dari banyaknya sistem
pembelajaran yang berlangsung, guru masih terpaku dan berkutat pada kurikulum
yang baku dan kaku. Dimana ketika mengajar hanya terpaku pada target kurikulum,
yang hanya melihat tolak ukur keberhasilan pada angka kuantitatif yang
diperoleh saat evaluasi saja.
Menjadikan guru sebagai motivator yang menggerakkan siswa pada sumber
belajar yang diakses adalah kunci utama untuk menjadi jembatan revolusi. Dengan
memantau siswa yang sedang mengembangkan kreativitas dan imajinasinya. Serta
dapat menilai dan memberi catatan, menambahkan, serta memperluas perbendaharaan
setiap temuan siswa. Selain itu guru juga hendaknya tidak mengajarkan
pengetahuan secara terpisah, melainkan mengajarkan metode penemuan dimana dan
dengan cara seperti apa informasi dan sumber-sumber dapat diperoleh, serta cara
memproses pengetahuan dan mengaplikasikannya untuk memecahkan permasalahan yang
ditemukan di kehidupan sehari-hari (Wartomo, 2016).
Sebagai guru yang mengajar di salah satu sekolah yang berada di pusat
kota, berharap fasilitas penunjang pembelajaran digitalisasi untuk
ditingkatkan. Karena jika pemerataan itu telah dilaksanakan, maka akan
memudahkan guru-guru untuk menerapkan pembelajaran digital itu sendiri. Selain
itu, dari guru nya sendiri, diharapkan mau dan mampu untuk mengikuti
perkembangan teknologi ini. Niatkan semua untuk keberhasilan pembelajaran yang
diterapkan dan siswa yang dibimbing. Wartomo (2016), mengatakan bahwa dalam
komunitas digital global hendaknya paling tidak dilakukan 3 (tiga)
pembelajaran, yaitu: (a) pembelajaran yang memusatkan pada konstruksi pencarian
dan penemuan, (b) pembelajaran yang menekankan pada kreativitas dan inisiatif,
dan (c) pembelajaran yang menekankan pada interaksi dan Kerjasama.
Idealnya pembelajaran digital
dapat berlangsung apabila pembelajaran yang diterapkan mampu medorong
kreativitas anak secara keseluruhan, membuat siswa aktif, mencapai tujuan
pembelajaran secara efektif dan berlangsung dalam kondisi menyenangkan. Selain
itu pembelajaran ideal berarti tercapainya tujuan dari suatu pembelajaran.
Siswa tidak merasa terbebani dan guru pun selalu bersemangat untuk menghadirkan
inovasi-inovasi terbaru untuk siswanya. Sanjaya (2006), peran guru dalam
pembelajaran era digital ada tujuh yakni: (1) guru sebagai sumber belajar; (2)
guru sebagai fasilitator; (3) guru sebagai pengelola; (4) guru sebagai
demonstrator; (5) guru sebagai pembimbing; (6) guru sebagai
motivator; (7) guru sebagai
elevator. Apabila dari ketujuh peran ini sudah dapat dilakukan, maka sukseslah
pembelajaran digital yang diterapkan.
Peran
guru sebagai sumber belajar berkaitan dengan kemampuan guru dalam menguasai
materi pelajaran, sehingga ketika siswa bertanya guru dapat dengan sigap dan
cepat memberikan jawaban kepada siswa. Memberikan pelayanan kepada siswa agar
memudahkan siswa untuk menerima materi sehingga pembeajaran menjadi efektif dan
efisien. Menunjukkan sikap yang akan menginspirasi siswa untuk melakukan hal
yang sama, bahkan lebih baik didalam proses pembelajaran. Menumbuhkan motivasi
dan semangat dalam diri siswa untuk belajar serta mengevaluasi semua hasil
pembelajaran yang telah dilakukan. Selain itu strategi yang dapat dilakukan
untuk meningkatan pembelajaran digital ialah dengan mengembangkan dan
menerapkan metode atau model pembelajaran yang menunjang terlaksananya
pembelajaran digital.
Menjadi guru di era digital membutuhkan usaha
yang lebih keras jika dibanding yang lalu-lalu. Berkembangnya dunia digital
terkadang membuat hubungan guru dan siswa tak lagi seperti yang diharapkan.
Namun, sebagai guru yang tak hanya mengajar tapi juga mendidik, akan selalu
berupaya agar tidak ada kesenjangan antara guru dan siswa lagi. Guru harus
memastikan bahwa semua siswa harus bisa memahami konsep dasarnya, bahkan
berupaya untuk mengajarkan bagaimana bisa mengkonstruksi sebuah makna atau
konsep, sehingga siswa bukan hanya mengerti untuk jangka pendek tapi juga untuk
jangka panjang. Satu diantaranya ialah dengan mengaitkan konsep yang abstrak
dengan kehidupan sehari-hari. Guru mengajak siswa untuk berperan aktif dengan
memberi tahu manfaat apa yang bisa didapatkan ketika menerapkan ilmu tersebut,
baik manfaat untuk diri sendiri atau pun untuk orang lain. Karena ketika
menhetahui dan memahami manfaatnya, siswa akan termotivasi untuk mempraktikkan
yang mereka pelajari.
Penting
pula bagi seorang guru untuk melatih kreativitas siswa agar informasi dan
materi pelajarn yang ingin disampaikan dapat diterima dengan baik. Untuk
melatih kreativitas siswa ialah dengan memperluas wawasan dan referensi
mengajar. Dengan demikian, guru bisa mencoba hal baru dan menemukan inovasi
cara mengajar yang bisa dilakukan pada proses pembelajaran dan mendukung siswa
untuk menerima materi yang diberikan dengan lebih efisien.
Penguasaan
bahasa seorang guru juga mendukung dalam meningkatkan budaya pembelajaran di
era digital. Hal ini diperlukan dalam mengembangkan potensi guru secara pribadi,
sebab banyak pelatihan dan materi terkait dengan pengajaran yang disampaikan
dengan bahasa asing. Dari semua paparan yang telah disampaikan penting bagi
seorang guru untuk memahami karakteristik siswa agar pembelajaran di era
digital dapat dilaksanakan dengan mudah, lancar, dan tanpa beban. Karena jika
diawalnya siswa atau guru sudah merasa terbebani untuk pelaksanaan pembelajaran
maka setiap kegiatan tidak akan berjalan dengan mudah. Tak hanya guru dan siswa
yang berperan penting, setiap warga sekolah juga harus berpean aktif untuk
menyukseskan pembelajaran di era digital ini. Dengan harapan kemajuan dan
kesuksesan dalam menghadapi budaya pembelajran di era digital dapat diraih
bersama.
Komentar
Posting Komentar